Rabu, 31 Desember 2025

Agora Sebagai Simbol Keterbukaan Intelektual

 


Kampus adalah sebuah lingkungan yang harus memberikan peluang sebesar-besarnya kepada setiap orang dalam rangka ‘mempertengkarkan’ ide demi ide. Tempatnya boleh saja di dalam kelas, di ruang-ruang perpustakaan, di taman tempat orang-orang duduk bersantai, di koridor-koridor, bahkan termasuk di dalam kantin. Dari asal katanya saja, campus (bahasa Latin) bermakna ‘lapangan luas’. Artinya, baik dosen maupun mahasiswa dapat melangsungkan dialektika intelektualnya di semua sisi ruang mana saja yang dikehendaki.

Membayangkan bahwa kerja-kerja akademis hanya dan wajib dilaksanakan di ruang-ruang kelas yang tertutup secara tidak langsung telah membatasi terjadinya dialektika itu sendiri. Ruang kelas diperlukan hanya untuk memastikan bahwa baik dosen dan mahasiswa tidak terganggu dalam beberapa menit waktu ketika membahas sebuah teori dan penjelasan-penjelasan lain dari teori itu sendiri. Diskusi lanjutannya bisa dilakukan kapan saja, dimana saja.

Penulis sendiri, sejak masih mengajar di sekolah, lebih banyak menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar di luar kelas. Situasi dan suasana belajar yang berbeda memberikan atensi yang juga berbeda bagi siswa. Ketika berada di dalam kelas, penempatan meja kursi siswa dan guru, termasuk papan tulis membentuk suasana belajar yang formal, yang tidak hanya menciptakan keberjarakan fisik tapi juga psikologis antara mereka. Tetapi ketika di luar kelas, suasana formal itu seketika menjadi cair, memungkinkan terjalinnya diskusi berbagai hal karena masing-masing merasa memiliki kedekatan.

Beberapa orang mahasiswa, saat kami sedang duduk dan ngobrol santai seusai perkuliahan menyampaikan bahwa, suatu ketika ada seseorang yang membicarakan, lebih tepatnya mengkritik saya karena kerap duduk berbaur dengan mahasiswa di luar ruang kelas perkuliahan. Saya sendiri memang senang duduk santai di kantin, menikmati makanan ringan, minum kopi dan di waktu yang lain kami duduk-duduk di mushalla. Di sana kami membicarakan berbagai hal dan persoalan yang ditanyakan mahasiswa, baik terkait soal materi perkuliahan maupun urusan-urusan pribadi mereka.

 Mendapat laporan seperti itu, saya memikirkan sebuah pertanyaan; apakah yang saya lakukan itu merupakan sebuah kesalahan dan pelanggaran terhadap kode etik akademik? Sebelum terlalu jauh memikirkan jawaban atas pertanyaan tersebut, saya bertanya kepada mahasiswa apakah mereka merasa kurang nyaman seandainya saya ikut kumpul bersama mereka. Mereka menjawab bahwa mereka justru merasa nyaman, terutama karena bisa mendiskusikan banyak hal tanpa terganggu oleh durasi jam pergantian saat di dalam kelas.

Dari jawaban itu, saya justru merasa aneh ketika seseorang mengkritik apa yang saya lakukan hanya karena saya membiarkan dialektika dan pertukaran argumen terus berlangsung di luar ruangan kelas. Meyakini bahwa diskusi dalam perkuliahan hanya boleh di lakukan di dalam ruangan kelas secara tidak langsung telah mereduksi makna kampus itu sendiri. Sebab pengetahuan tidak hanya ditemukan di dalam ruang-ruang laboratorium, tapi bisa juga didapatkan di tengah keramaian pasar, di area parkiran, di lokalisasi perjudian dan pelacuran, bahkan di area yang kumuh sekalipun.

Sedari dulu para filsuf sudah meyakini bahwa akal pikiran dan daya hayal manusia tidak bisa tertampung oleh tempurung otak fisiknya yang terbatas. Daya pikir dan daya hayal itu bisa mengembara kemana-mana. Karena itu mereka berdiskusi di berbagai tempat. Konon, di Yunani ada sebuah tempat bernama Agora yang merupakan alun-alun pasar utama di kota Yunani. Tempat ini memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai tempat para filsuf berdiskusi dan juga tempat orang-orang menaruh dagangannya untuk dijual. Jadi sejak awal berbagai tempat mencerminkan sifat kehidupan sosial dan intelektual yang terbuka.

Tetapi naluri feodalisme sepertinya mengubah itu semua bahwa diskusi hanya boleh di satu titik tempat tertentu, tidak boleh di luar. Pembicaraan tentang pengetahuan hanya boleh dilakukan dan didengarkan oleh kalangan tertentu dan masyarakat umum tidak boleh ikut mendengarkan. Seorang guru, seorang dosen, kiai, ustadz atau apa saja tidak seharusnya khawatir bahwa dengan melakukan diskusi di luar ruang-ruang belajar akan menyebabkan reputasi, wibawa dan kehormatan mereka akan tercoreng. Mereka semua adalah pelayan umat, pelayan masyarakat dan ketika memutuskan untuk menjadi pelayan masyarakat tidak ada salahnya memahami apa yang dikatakan Ibnu Hazm al-Andalusi ini:    

من تصدر لخدمه العامة،فلا بد أن يتصدق ببعض من عرضه على الناس لأنه لا محاله مشتوم حتى وإن واصل الليل بالنهار

 Intinya; siapa saja yang sudah memutuskan berkhidmat pada kepentingan dan pelayanan publik atau masyarakat, maka ia harus bersedia mengorbankan sebagian kehormatannya untuk orang lain, karena pasti akan ada yang mencacinya. Bahkan, jika ia bekerja keras siang dan malam.

Jumat, 26 November 2021

MOMEN-MOMEN INDAH SAAT SERTIJAB

MAN 4 Kebumen

"Segalanya memang akan segera berlalu. Tetapi harus ada yang merawat setiap kenangan yang baik ini. Aku tidak tahu, apakah kelak akan ada yang datang mengungjungi kenangan-kenangannya kembali di sini, memberikan seulas senyum manisnya ketika mata mereka melihat kembali apa saja yang sudah pernah mereka lewatkan dalam hidupnya. Dan seandainya mereka membiarkan apa yang sudah lewat sebagai ampas kehidupan, namun setidaknya mereka masih berkenan untuk sewaktu-waktu mengingat bahwa di sinilah mereka pernah singgah untuk melangkah ke masa depan masing-masing."


 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 


 

Yaaaa......akhirnya fotoku masuk sini jugak.
Hepi ending dah....jadinya.
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
 
 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

 


 

 

 



Senin, 15 November 2021

CERITA-CERITI VAKSINASI DI MAN 4 KEBUMEN

Ikhtiar untuk tetap selalu sehat di tengah situasi pandemi virus Covid-19 terus dilakukan oleh pemerintah. Salah satunya dengan program vaksinasi nasional. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, hingga 30 Oktober 2021, tercatat masyarakat Indonesia yang sudah divaksin telah mencapai 119.151.818 jiwa dan ditargetkan pada bulan November 2021 lebih dari 50 persen masyarakat sudah divaksin.

Salah satu sasaran vaksinasi yang digalakkan saat ini adalah kalangan pelajar. Hal ini sebagai salah satu upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di lingkungan pendidikan terutama ketika melaksanakan proses pembelajaran terbatas yang sebagian sudah berjalan. Berkaitan dengan hal tersebut, Senin 15 November 2021, sekitar 542 pelajar MAN 4 Kebumen ikut melakukan vaksinasi yang terlaksana atas kerjasama MAN 4 Kebumen dengan Puskesmas Gombong 2.

Menurut Waka Kesiswaan MAN 4 Kebumen, Ibu Asmara Wijaya, S.Pd, pelajar yang hadir di madrasah berdasarkan data yang masuk semuanya berjumlah 551 orang, namun yang bisa divaksin baru 542 orang. “Ada sembilan orang yang tidak bisa divaksin hari ini dan disarankan untuk vaksin susulan. Dari sembilan orang itu problemnya bermacam-macam mulai dari aspek kesehatan yang tidak memungkinkan untuk divaksin saat ini dan sebagian yang lain terkait dengan masalah di NIK. Kami akan terus melakukan koordinasi dengan petugas kesehatan dan wali murid agar siswa-siswi kami bisa semuanya nantinya mendapatkan vaksin,” demikian ungkap Ibu Asmara kepada redaksi E-Mantap.

Berdasarkan pantauan Tim E-Mantap, dalam pelaksanaan vaksinasi tersebut, terdapat beberapa orang pelajar yang mendapatkan perawatan intensif pasca vaksin. Mereka ditempatkan di ruang UKS MAN 4 Kebumen. Namun hingga berita ini diturunkan kondisi beberapa pelajar tersebut akhirnya pulih kembali dan bisa pulang ke rumah masing-masing. Salah seorang pelajar yang tidak berkenan disebutkan namanya (ED) mengemukakan bahwa setelah divaksin dirinya merasakan pusing. “Saya bahkan sempat pingsan katanya tadi. Tapi sekarang sudah nggak apa-apa. Nggak pusing lagi.”

Selain itu, pelaksanaan vaksinasi untuk para pelajar MAN 4 Kebumen siang tadi juga tampak meriah. Hampir semua guru tampak terlibat untuk memperlancar jalannya vaksinasi mulai dari mengatur parkiran kendaraan, mendata siswa yang hendak divaksin, mengontrol prokes bagi setiap siswa yang masuk di lingkungan MAN 4 Kebumen, dan ada juga yang menghibur para pelajar yang mau divaksin dengan karaoke agar mereka tidak terlalu tegang pada saat menunggu untuk divaksin.

Keceriaan juga tampak terlihat jelas di wajah-wajah para pelajar MAN 4 Kebumen meskipun ada juga sebagian pelajar yang merasa ketakutan sampai menangis ketika sudah berada di bilik vaksinasi. Berbagai potret kejadian para pelajar MAN 4 Kebumen pada saat pelaksanaan vaksinasi tersebut tak ayal mengundang tawa bagi beberapa guru, petugas kesehatan dan juga para pelajar yang hadir. Seperti apa keseruan mereka, yuk intip sebagian foto-fotonya berikut ini...(@PapiRose)

"Mejeng dulu sebelum dicuil jarum suntik kuy.."
 
 
"Saya habis divaksin rasanya pusing. Pintu gerbang pulang ke sana yaa.."
 
 
 
"Disuntik vaksin nggak sakit kok. Macam digigit semut selusin aja...wkwkw"
 
 

"Selamat, kuota 200 GB sudah masuk ke nomor Anda..."

 
 
"Yang sudah vaksin pasti jempolan.."
 
 

"Duh Gusti...kulo laparr!" wkwkwk 
 
 

"Satu laki empat wanita. Ini bukan poligami ya. Tapi poliklinik."
 
 
 
"Aduhh...rasanya kayak ujian skripsi nih....mamas PPL....wkwkwkw"
 
 
 
"Apa loo..mau reset CBT? Tak ada reset-reset. Kita sibuk vaksin nih."
 
 
 
"Tak ada guna lagi air mataku. Biar pun tumpah...kau ceplus juga, tega ya dirimu."
 
 
 
"Ya Allah....kupasrahkan jiwa ragaku kepadamu. Cakittt ini."
 
 
 
Wehhh....ada fasilitas antar jemput gratis nih...hahaha
 
 
 
"Menunggu bukan hanya membosankan, tapi juga mendebarkan. Nunggu dicepluss..."
 
 
 
"Hebat alat pengukur suhunya, tinggal gini aja dia ngomong sendiri. Dompet Anda normal.....wkwkwk"
 
 
 
"Bang, ini mau vaksin apa mau salat Idul Pitri, Bang? Au' ahhh..."
 
 
 
"Sabang neng. Tak usah ngembek gitu. Mending sakit gegara disuntik daripada sakit gara2 didiemin orang se RT." 
 
 

Ini dia artisnya... "Jatuh bangun aku mengejarmuu...." 
"Nengajar layangan putus, Bang?"
Brisikkk
 
 
 
"Siap-siap semuanya....hari ini kita senam dulu pake goyang Ipin Upin...oke"
 
 

Eh, ada Papi ikut mejeng di belakang tuh. Papirika.....hahaha...bisa ditongseng dong



 




 

 
 

 

 

 

 

 

 
 

 



 



 


 



s

TERBARU DARI GURU