Senin, 25 Mei 2026

MENCARI NISAN TERAKHIR: Bagian Pertama

 

Makam Fatimah binti Maimun

Suasana hening, nyaris tidak terdengar suara apa pun. Beberapa lampu penerang masih menyala walau cahayanya sudah mulai suram. Cuaca terasa begitu dingin. Meski sudah memakai jaket, namun tubuhku masih merasakan dinginnya suasana pagi ini, apalagi semalam turun gerimis. Daun-daun kamboja kulihat masih tampak basah dan merunduk, seperti meresapi keadaan di sekitarnya.

Walau sebenarnya ragu, aku memaksakan diri untuk terus berjalan di atas jalan setapak yang akan mengantarkanku pada sebuah tempat peristirahatan terakhir seorang perempuan, yang entah kenapa selama beberapa bulan terakhir ini menarik keinginanku untuk mengunjunginya.

Aku sendiri mengetahui nama perempuan itu dari sebuah buku yang pernah aku baca, yang sekilas menjelaskan tentang nama dan asal-usulnya. Namun keanehan terjadi sewaktu aku membaca kisah tentangnya. Aku merasa sudah mengenalnya begitu lama. Namanya seakan tidak asing di telingaku seperti halnya seorang teman yang sudah lama tidak pernah berjumpa.

"Kamu sedang menerima panggilan spiritual darinya. Kamu harus segera mengunjunginya," kata Yai Wardhana saat aku bercerita tentang keanehan yang menyelimuti perasaan dan pikiranku.

Aku hanya diam saja mendengar saran Yai Wardhana. 

"Selama ini, sudah banyak yang mempelajari sosok Fatimah binti Maimun itu, tapi sangat jarang yang mengalami hal-hal seperti yang kamu alami sekarang. Saranku, jangan tunda lagi. Kamu harus segera ke sana."

Aku memikirkan saran Yai Wardhana itu beberapa hari lamanya sebelum akhirnya aku yakin bahwa aku memang harus mengunjunginya. Apalagi, keanehan-keanehan semakin nyata aku alami seperti timbulnya keinginan yang menggebu-gebu justru pada saat aku berniat untuk tidak pergi ke sana.     

Dan pagi ini aku sudah berada begitu dekat dengan tempat peristirahatan perempuan itu. Dengan hati yang kian berdebar dari sebelumnya, aku terus berjalan. Beberapa meter di depan sana, aku melihat dengan jelas sebuah pintu gerbang setinggi kurang lebih tiga meter yang terbuat dari batu bata. Sementara di belakangnya tampak sebuah bangunan cungkup segi empat yang menurutku tingginya sekitar 15 meter.

Sampai akhirnya langkahku terhenti saat berada tepat di depan pintu gerbang yang sebagian batunya dipenuhi lumut. Dengan agak ragu dan sedikit gemetar, aku sentuh tumpukan batu pintu gerbang itu sambil menarik nafas dan memejamkan mata. Aneh! Kehangatan seakan-akan mengalir ke sekujur tubuhku. Aku seperti merasakan sebuah kedamaian, menangkap sesuatu yang mengagumkan, semacam pancaran energi yang begitu kuat dan lembut yang berasal dari cungkup yang ada di belakang sana. 

Aku menarik tanganku, lalu berjalan memasuki lorong dengan sedikit membungkuk. Saat berada di tengah-tengah lorong gerbang itu, dalam suasana pagi sebelum matahari terbit, perasaanku kembali menangkap energi yang lebih hangat dan damai. Aku seperti berada di tengah-tengah suasana yang dipenuhi dengan kesucian dan kemuliaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.

"Apakah ini artinya dia menerima kedatanganku." 

Aku membatin sebentar, dan lalu buru-buru melangkahkan kaki perlahan-lahan menuju sebuah bangunan berbentuk cungkup, besar dan tinggi. Saat aku berada tepat di depan bangunan itu, kedua mataku tak bisa berkedip. Yang aku lihat kini bukan sekadar gedung cungkup dari masa silam yang jauh, melainkan sesuatu yang lebih besar dari itu dan aku tidak tahu bagaimana membahasakannya.

Warna kusam dinding bangunan yang berdiri kokoh di depanku kini memancarkan kemegahan aura spiritual tersendiri. Ada kemegahan dari kejayaan Majapahit berikut kekhusyukan para rohaniawan masa silam. Aura dari kekuatan mereka seakan menyatu kuat menyelimuti dinding bangunan yang berdiri sejak beberapa abad yang lalu. Merenungkan itu semua, aku seperti terseret pada pusaran waktu yang tak mampu kupahami dengan sempurna.

"Siapakah engkau sebenarnya wahai Fatimah?"

Pertanyaan itu bergema di dalam pikiranku. Dan perasaanku sendiri  meluncur deras melewati lapisan demi lapisan sejarah, lalu berhenti pada satu keadaan di mana segalanya terasa begitu sunyi dan kudus. Aku melihat kabut tipis menggantung di ujung rimbunnya pohon bambu yang sebentar kemudian pudar oleh hembusan angin. Jalan-jalan kecil setapak dengan pohon-pohon besar di kiri-kanannya tegak dan kukuh. Sejauh mata memandang hanya rerimbun hijau dedaunan dan sesekali tercium aroma dupa, entah berasal dari mana. Semua keadaan itu membuatku merasa benar-benar damai.  

"Ini adalah awal. Kamu akan melanjutkan perjalanan berikutnya. Bangunlah. Aku telah menerima kedatanganmu. Pergilah kepada yang terdekat."

Hangat sinar matahari yang menimpa tubuhku tiba seiring menghilangnya suara itu. Apakah aku bermimpi? Pergilah kepada yang terdekat; apa maksudnya. Hari sudah mulai terang. Sebelum beranjak pergi, kulihat sekali lagi bangunan cungkup yang megah itu. Masa silam yang direnungkan akan selalu menyuguhkan keindahan yang tak mampu diungkapkan.

 

 

  

Jumat, 08 Mei 2026

Di Bawah Bayang-Bayang Tatapan Mata Guru

 
 Di depan teman-temannya, Cak Sarudin bercerita dengan penuh semangat kalau sewaktu sekolah Aliyah dulu ia mempunyai seorang guru yang sangat ia hormati. 

"Namanya KH. Kamalil Irsyad. Beliau guru PPKN. Orangnya sangat sederhana. Dan cara ngajarnya sangat aneh," katanya.

"Aneh gimana?" tanya seorang temannya.

"Kalau dia ngajar, aku belum pernah melihat dia menatap murid-muridnya. Pandangannya ke bawah, ke lantai. Saat dia menjelaskan, ya tetap saja pandangannya ke lantai. Macam orang salat saja," papar Cak Sarudin.

Suasana seketika gaduh. Sekian teman-teman Cak Sarudin memberikan berbagai macam tanggapan. Ada yang berkata kalau cara ngajar demikian sama sekali tidak komunikatif. 

"Komunikatif itu nggak harus lewat kata-kata. Tatapan seorang guru itu juga bagian dari komunikasi. Ada nuansa dan resonansi berbeda yang akan dirasakan oleh murid ketika gurunya sedang melihat dan memperhatikan dia. Kalau menunduk macam itu mana ada getaran yang sampai ke mereka," katanya.

Yang lain silih berganti memberikan tanggapan. Dari sekian tanggapan itu semuanya mengarah pada satu kesimpulan: guru perlu menatap, memandang dan memperhatikan muridnya. Artinya, cara guru Cak Sarudin mengajar yang selalu menunduk adalah salah. Begitu kata mereka.

Cak Sarudin mengangguk sambil menghirup kopi dan menghisap rokok kretek kesukaannya. Lalu ia menarik napas, seperti menghimpun satu kekuatan yang akan ia gunakan saat memberikan tanggapan balik pada mereka. Lalu,

"Dengarkan oleh kalian," katanya dengan suara yang dibuat terdengar berat. "Apa pun kesimpulan yang kalian buat, itu tidak otomatis menjadikan argumen kalian benar dan apa yang dilakukan guru saya itu salah. Tak peduli teori pendidikan apa yang kalian buat.

Tetapi saksikanlah oleh kalian apa yang terjadi hari-hari ini. Beberapa lembaga pendidikan dibuat heboh oleh tindakan amoral sebagian oknum guru-gurunya. Ada yang melakukan pencabulan, ada yang melakukan perselingkuhan, yang melibatkan guru dan murid. Bagaimana semua itu terjadi kalau bukan karena dari kebiasaan melihat dan memandang yang tidak dikontrol baik-baik. 

Apa yang dilakukan oleh guru saya itu, mungkin saja adalah cara yang bisa ia lakukan untuk menjaga pandangan, menciptakan kontrol diri dalam memandang meskipun itu adalah muridnya. Setan bersemayam di dalam kelopak mata mereka yang senang memandang. Kalau tanpa kontrol yang mapan, pandangan itu akan memunculkan kesimpulan yang berujung pada keinginan-keinginan buruk.

Sering-seringlah kamu memandangi murid-muridmu. Kamu akan bisa membedakan mana yang cantik-tampan dan mana yang tidak. Setelah itu, karena ketiadaan kontrol, kamu akan mengaguminya, mencari-cari alasan untuk bisa berlama-lama berbincang dengannya, mencandainya, merayunya hinggaa....ah, sudahlah. Ini hari sudah malam. Mataku sudah sangat ngantuk. Mari kita bubar saja," tutup Cak Sarudin.

Semua teman nongkrong Cak Sarudin membubarkan diri tanpa ada sepatahkatapun yang keluar dari mulut mereka.  

Jumat, 17 April 2026

Manusia Itu Sementara, yang ‘Abadi’ Sampahnya

 

Seorang lelaki di Kalitengah Kebumen, di bawah terik matahari siang yang membakar, mengais-ngais sampah plastik yang berserakan di sawahnya. Sampah-sampah itu terbawa arus aliran sungai kecil yang airnya membludak membawa sampah-sampah itu masuk ke dalam sepetak sawah miliknya. Ia jelas lelah dengan tugas dadakan yang sudah sering terjadi sejak bertahun-tahun yang lalu.

Sialnya, sampah-sampah plastik itu bukanlah sampah rumah tangganya sendiri melainkan sampah orang lain yang secara sembrono mereka membuang sampah-sampah rumah tangganya di bantaran sungai. Sungguh tidak jelas asal-usulnya, sejak kapan mereka berpikir bahwa sungai dianggap sebagai tempat paling mudah untuk membuang sampah tanpa pernah peduli bahwa akibat ulahnya itu justru orang lain yang harus menanggung trukah.

Rasanya belum pernah ada fatwa yang dikeluarkan secara khusus yang berisi jawaban atas pertanyaan; apa hukumnya membuang sampah di sungai yang mengakibatkan orang lain sengsara sebagaimana contoh di atas? Dosakah? Haramkah?

Tidak sedikit diskusi hukum dilakukan namun hanya membicarakan persoalan-persoalan yang sesungguhnya tidak lebih urgen dari masalah sampah. Padahal, masalah paling dekat dengan urusan kehidupan seluruh umat manusia antara lain adalah sampah. Setiap hari tidak pernah ada manusia yang tidak menimbulkan sampah, baik dalam skala volumenya yang besar maupun kecil.

Sampah itu, bagi sebagian orang memang terlihat menjijikkan. Anda dijamin akan nesu-nesu, uring-uringan dan sumpah serapah akan keluar dari mulut Anda bila tetangga sebelah rumah Anda membiarkan sampah rumah tangganya menumpuk mengeluarkan bau busuk atau berserakan diterbangkan angin hingga ke halaman rumah Anda.

Tapi di saat yang bersamaan Anda sendiri membuang sampah di sembarang tempat, membuang sampah di sungai, yang lalu hanyut dan membusuk di tempat-tempat jauh di samping rumah orang lain. Parahnya, sampah-sampah rumah tangga Anda, yang Anda sendiri saja jijik melihat dan menanganinya justru malah orang lain yang harus dikorbankan sehingga mereka bersusah payah mengurusnya seperti kasus di atas.

Jika orang lain harus menanggung susah akibat sampah-sampah rumah tangga kita yang kita buang sembarangan, lalu kita akan disebut apa kalau bukan dzalim. Bisakah kita dikatakan cinta lingkungan sehat dan bersih dari sampah jika ternyata sampah-sampah itu dibuang di sungai dan sembarang tempat sehingga orang lain yang harus jadi korbannya?

Jangan egois. Manusia itu hidupnya sementara, yang ‘abadi’ adalah sampahnya. Mari jaga kebersihan lingkungan kita dari sampah, pikirkan bagaimana menangani sampah. Kalau malas memikirkan sendiri tentang bagaimana mengurus sampah-sampah Anda, carilah mitra yang bisa membantu mengurusnya.

Senin, 13 April 2026

Khilaf Ngeshare Konten 'Biru' di Group WA; Reaksi Mereka dan Juga Saya

 

Saya berkunjung ke rumah rekan, meninggalkan hp yang sedang drop dan lagi dicarge di rumah. Karena itu, saya tidak mengetahui ketika ada keributan kecil di group whatsap di mana saya sendiri adalah adminnya. Keributan itu bermula dari seseorang yang mempublikasikan foto dan video tidak senonoh di dalam group.

Atas postingan itu sontak sebagian anggota group bereaksi. Ada beberapa jenis reaksi yang ditunjukkan. Pertama, ada yang bereaksi dengan nada candaan sambil menyebut nama anggota lain untuk ikut bereaksi. Dalam sosial media ini biasa disebut dengan istilah 'mencolek' teman untuk ikut terlibat dalam reaksi.

Kedua, ada yang sekadar melihat postingan dan komentar di group tapi tidak bereaksi di dalam group melainkan di dalam status whatsapnya sendiri dengan kata-kata singkat dan sudah pasti orang lain di luar group tidak paham apa maksudnya kok tahu-tahu bikin status dengan kata-kata begitu.

Ketiga, ada yang sekadar melihat postingan dan komentar mungkin dengan nada kesal, marah, dan mengerutu sendiri tapi tidak disampaikan baik di dalam group maupun di status whatsapnya sendiri. Keempat, ada juga yang memperlihatkan reaksi marah dan mangkel dan menyampaikan langsung di dalam group dengan kata-kata tertentu yang memperlihatkan kalau dia mangkel.

Kelima, ada yang bereaksi dengan mengirimkan pesan pribadi kepada admin whatsap group (dalam hal ini saya) dan menyampaikan keberatan atas postingan tersebut bahkan meminta agar si penyebar foto itu dikeluarkan dari group. Termasuk si penyebar itu yang secara langsung menyampaikan permohonan maafnya kepada admin atas postingan yang menurutnya tidak sengaja, khilaf dan sebagainya.

Dari kejadian ini, selaku admin saya melakukan beberapa tindakan berdasarkan alasan-alasan yang menurut saya logis untuk dilakukan. Pertama, untuk waktu yang belum bisa ditentukan saya segera menghapus foto dan video itu untuk semua orang dan mengubah pengaturan group whatsap dari yang awalnya publik bisa mengirimkan pesan menjadi hanya admin yang bisa mengirimkan pesan.

Alasannya sederhana; biar si pelaku penyebar foto dan video itu tidak menjadi bahan gunjingan orang-orang se group. Tentu ini bukan berarti saya mendukung penyebar konten-konten berbau porno semacam itu. Apa pun alasannya, menyebarkan konten seperti itu dilarang baik oleh agama maupun undang-undang.

Tidak membiarkan orang-orang bebas menggunjing orang lain yang berbuat salah itu juga penting. Apalagi orang itu masih dalam lingkup group kita sendiri, tetangga sendiri atau mungkin teman dan rekan kita sendiri. Memang benar dia salah dan khilaf, tapi kesalahannya juga tidak bisa dijadikan alasan pembenar bagi kita untuk menggunjing. Memangnya kita sendiri tidak pernah melakukan kesalahan!? 

Kedua, beberapa orang yang mengirimkan pesan pribadi kepada saya meminta agar yang bersangkutan dikeluarkan dari group. Tapi saya dengan tegas menolak. Alasannya sederhana; group yang saya kelola adalah group saluran informasi untuk warga dan setiap warga yang berada di dalam group memiliki hak yang sama untuk mendapatkan informasi, entah apa pun dan bagaimana pun keadaan atau tabiat mereka. 

Namun demikian, ada satu hal yang perlu dicatat. Bahwa setiap group whatsap isinya bukan orang baik semua tapi juga bukan orang buruk semua, bukan orang yang pendiam semua tapi juga juga bukan orang yang cerewet semua. Ada yang suka posting gambar dan komentar yang tidak penting dan tidak serius tapi ada juga yang suka posting gambar dan komentar yang serius. Group whatsap adalah miniatur isi kepala orang-orang yang tergabung di dalamnya.

Dan saya sendiri juga tidak senang jika ada anggota group yang sering dan senang share gambar-gambar dan video tidak senonoh di dalam group. Itu seperti mempertontonkan kesukaan dia pada keburukan di depan orang lain. Itu seperti halnya orang merokok di depan orang lain di bulan Ramadhan padahal orang-orang di depannya lagi puasa. Mbok ngumpet, diem-diem nikmati sendiri aja.  

 

 

Selasa, 10 Maret 2026

MINI CONFERENCE RSIS NTU

 Waktu menunjukkan jam 5 pagi di hari Minggu 10 September 2017 itu, ketika saya tiba di Bandara Internasional Adisucipto Yogyakarta. Cuaca dingin dan rasa kantuk masih  menggelayut di pelupuk mata. Maklum, hampir semalaman saya tidak tidur karena harus menyiapkan berbagai keperluan presentasi.

Saya sadar, bahwa presentasi yang akan saya sampaikan pada hari Senin 11 September 2017 keesokan harinya adalah presentasi yang bagi saya sangat luar biasa. Ya, luar biasa. Sebab saya harus melakukan presentasi di hadapan orang-orang baru, di ruangan baru, tepatnya di sebuah negara yang juga merupakan negara baru yang saya datangi. Singapura. 
 
  
Sebelumnya bagi saya, datang ke negara tetangga itu seperti sebuah mimpi saja. Singapura yang selama berpuluh-puluh tahun lalu saya hanya mendengarnya sebagai negara maju, di hari Minggu itu akan saya kunjungi. Negara yang warna benderanya (kecuali motif bintang dan bulannya) sama persis dengan bendera Indonesia itu akan menjadi negara pertama yang saya kunjungi dalam sejarah hidup saya bepergian ke luar negeri. Semoga akan ada kesempatan lain untuk bisa berkunjung ke negara-negara lain di waktu yang lain.
 
Dan tujuan utama dari kepergian saya ke negara yang bisa ditempuh hanya dalam waktu satu jam lebih dari Jakarta itu bukan untuk traveling atau shooping, melainkan untuk presentasi paper dalam acara mini conference yang diselenggarakan S.Rajaratnam School of International Studies (RSIS), yang berada di lingkungan salah satu kampus terkemuka di dunia; Nanyang Technological University.
 
 
Barangkali bukan hanya saya, keempat rekan saya seperti Imas Luul Jannah, Moh. Anwar Salafuddin, Lutfan Muntaqo dan Dahlia Hidayati Umar Hasan mungkin juga merasakan perasaan yang sama -senang dan gugup- ketika mereka tahu bahwa abstrak paper hasil penelitian yang mereka kirimkan ternyata diterima dan disetujui untuk dipresentasikan di Singapura. Kami senang karena bisa bepergian ke luar negeri dengan gratis, tapi juga gugup karena kepergian itu sebenarnya tidak benar-benar gratis. Ada ‘harga’ yang harus dibayar, yaitu kesungguhan untuk bisa mempresentasikan paper kami dengan sebaik-baiknya dan kami telah berupaya untuk itu. 

Sepanjang penerbangan dari Yogyakarta-Tangerang hingga Singapura, saya pribadi tak henti-hentinya bersyukur dengan mengikuti program call paper yang banyak ditawarkan oleh berbagai lembaga dan perguruan tinggi luar negeri lewat kerjasama mereka dengan pascasarjana UIN Sunan Kalijaga. Salah satunya sebagaimana program call paper yang diselenggarakan RSIS di mana tahun ini mengangkat tema Islam, Globalisation and Activism in Southeast Asia.
 
 
Juga, sepanjang penerbangan itu, saya menyiapkan mental untuk bisa menjalankan kewajiban saya agar bisa mempresentasikan paper dengan sebaik-baiknya, sebagus-bagusnya, meskipun segala persiapan itu harus runtuh secara perlahan saat saya ‘ditahan’ (random chek) untuk suatu alasan yang bagi saya hingga saat ini masih menjadi misteri. Duh! Peristiwa random yang saya alami untuk pertamakalinya itu tentu saja membuat saya shock. Apalagi, itu saya alami di suatu tempat yang amat jauh dari negara saya, di mana tak satu pun orang-orang yang saya lihat bisa diajak untuk sekadar curhat mengurai rasa shock yang tak bisa hilang begitu saja meski Pak Najib Kailani, Pak Ahmad Rafiq dan Pak Sunarwoto berkali-kali berkata, “Tenang, Rus. Itu biasa, santai saja”. Ya, tenang saja. Mungkin memang seperti itulah perjalanan hidup manusia. Selalu ada masalah, rintangan, hambatan dan juga random.    
 

Dengan mengikuti program call paper semacam itu, yang utama bagi kami para mahasiswa tentu bukan sekadar bisa pergi gratis ke luar negeri. Tapi, dengan adanya program itu, kita juga bisa menyadari apa yang seharusnya kita benahi dari setiap kekurangan kita sebagai mahasiswa lewat pertukaran ide dengan berbagai pihak dalam ruang lingkup yang lebih luas. Hal ini tampak selaras dengan sambutan Bapak Noorhaidi Hasan selaku direktur pascasarjana UIN Sunan Kalijaga yang menyatakan bahwa, lewat program call paper ini beliau ingin memberikan peluang, pengalaman dan kesempatan kepada mahasiswa untuk membuka wawasan mereka seluas-luasnya lewat interaksi secara internasional melalui riset dan karya-karya intelektual. 


Bagi saya dan empat rekan saya lainnya sesama mahasiswa, kesempatan mengikuti mini conference ke Singapura tahun ini adalah pengalaman yang cukup berharga. Terlebih ketika Bapak Noorhaidi Hasan, Bapak Najib Kailani, Bapak Sunarwoto, Bapak Ahmad Rafiq, Ibu Nina Mariani Noor, Ibu Eti Rohaeti dan Ibu Kenya Budiani yang notabene banyak mengenyam pengalaman mengikuti kegiatan seperti itu, turut pula menemani dan membimbing kami.


Di samping itu, bagi saya, mengikuti program mini conference seperti itu tidak sekadar meniscayakan diperolehnya pengalaman berdiskusi dalam kancah internasional lewat paper yang dipresentasikan. Namun yang tidak kalah penting adalah, kita juga dapat saling memahami bagaimana tradisi dan budaya masyarakat di setiap negara yang kita kunjungi serta turut merasakan atmosfer kehidupan mereka. Kenyataan ini tentu saja memberikan nilai pengalaman lebih bagi kita dan membuat kita bisa mempelajari banyak hal tentang apa yang baik di negara lain yang bisa kita ikuti, di mana yang demikian tidak kita temui di negara sendiri.
 
Seperti halnya negara Singapura. Harus saya akui bahwa negara ini dihuni oleh orang-orang yang menjadikan kedisiplinan sebagai sikap hidup yang penting. Sebagai contoh, bila kita menyusuri jalanan Singapura yang ramai itu, kita seperti sedang menyusuri jalanan perkampungan yang sunyi. Deru mobil yang berseleweran tak ubahnya desir angin yang menelusup di antara ranting-ranting dan dedaunan. Itu terjadi karena para pengendara tak perlu membunyikan klakson untuk sekadar mendahului atau pindah jalur dan mereka tak perlu merasa khawatir disenggol atau ditabrak mobil lain. Di Singapura, kedisiplinan tidak hanya ada di kampus dan tempat-tempat kerja, tapi juga di jalan-jalan raya.
 
“Coba kamu perhatikan, di Singapura ini, betapa jarangnya kita mendengar suara klakson mobil meskipun jalanan ramai seperti ini, kan?” bisik Pak Sunarwoto di samping saya. Dan saya pun terpengaruh ucapan beliau sehingga sepanjang perjalanan menyusuri bagian-bagian Singapura, saya lebih banyak terdiam di dalam mobil, memperhatikan kalau-kalau ada suara klakson mobil. Ini memang terdengar cukup aneh.
 
Malam hari, usai siangnya mengikuti mini conference, kami rombongan dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini kami diberi kesempatan untuk menikmati makan malam di kawasan Chinatown Food Street. Kawasan ini hampir dapat dikatakan sebagai kawasan yang tidak pernah sepi. Tumpukan kursi selalu dipenuhi oleh para turis yang ingin menikmati makan malam mereka di daerah yang banyak dipenuhi dengan ornamen-ornamen China.

Selesai menikmati acara makan malam di Chinatown Food Street, kami bergegas menuju pusat keramaian lain di Singapura. Kali ini kami menuju Merlion Park, sebuah tempat di mana ikon Singapura berada. Di tempat ini, peserta mini conference dapat menikmati beberapa pemandangan seperti Esplanade, bangunan yang merupakan pusat seni paling aktif di dunia, Singapura River dan Marina Bay Sands yang sedang mempertontonkan atraksi cahayanya. Menjelang tengah malam, kami mengakhiri perjalanan di Mustafa Center Singapure untuk keperluan membeli oleh-oleh yang akan dibawa pulang pada Selasa keesokan harinya. 
 
Sampai acara selesai dan kami harus kembali bertolak ke tanah air, peristiwa random chek itu kembali saya alami. Saya tertahan kembali untuk diperiksa beberapa saat di pintu masuk Bandara Changi. Cek sidik jari berkali-kali. Cek paspor berkali-kali, dan wajah saya ditatap petugas berkali-kali. Dalam hati saya hanya bisa membatin, “Ya, Tuhan! Ini akibat salah saya atau ada yang salah dengan wajah saya.” Tapi ya...biarlah, saya tak ingin memikirkannya lagi. Saya sudah capek, ngantuk. Wayyyyy....uzzzz! 
 

 
 
 
 

TERBARU DARI GURU

CATATAN GURU KEMARIN DULU