Di depan teman-temannya, Cak Sarudin bercerita dengan penuh semangat kalau sewaktu sekolah Aliyah dulu ia mempunyai seorang guru yang sangat ia hormati.
"Namanya KH. Kamalil Irsyad. Beliau guru PPKN. Orangnya sangat sederhana. Dan cara ngajarnya sangat aneh," katanya.
"Aneh gimana?" tanya seorang temannya.
"Kalau dia ngajar, aku belum pernah melihat dia menatap murid-muridnya. Pandangannya ke bawah, ke lantai. Saat dia menjelaskan, ya tetap saja pandangannya ke lantai. Macam orang salat saja," papar Cak Sarudin.
Suasana seketika gaduh. Sekian teman-teman Cak Sarudin memberikan berbagai macam tanggapan. Ada yang berkata kalau cara ngajar demikian sama sekali tidak komunikatif.
"Komunikatif itu nggak harus lewat kata-kata. Tatapan seorang guru itu juga bagian dari komunikasi. Ada nuansa dan resonansi berbeda yang akan dirasakan oleh murid ketika gurunya sedang melihat dan memperhatikan dia. Kalau menunduk macam itu mana ada getaran yang sampai ke mereka," katanya.
Yang lain silih berganti memberikan tanggapan. Dari sekian tanggapan itu semuanya mengarah pada satu kesimpulan: guru perlu menatap, memandang dan memperhatikan muridnya. Artinya, cara guru Cak Sarudin mengajar yang selalu menunduk adalah salah. Begitu kata mereka.
Cak Sarudin mengangguk sambil menghirup kopi dan menghisap rokok kretek kesukaannya. Lalu ia menarik napas, seperti menghimpun satu kekuatan yang akan ia gunakan saat memberikan tanggapan balik pada mereka. Lalu,
"Dengarkan oleh kalian," katanya dengan suara yang dibuat terdengar berat. "Apa pun kesimpulan yang kalian buat, itu tidak otomatis menjadikan argumen kalian benar dan apa yang dilakukan guru saya itu salah. Tak peduli teori pendidikan apa yang kalian buat.
Tetapi saksikanlah oleh kalian apa yang terjadi hari-hari ini. Beberapa lembaga pendidikan dibuat heboh oleh tindakan amoral sebagian oknum guru-gurunya. Ada yang melakukan pencabulan, ada yang melakukan perselingkuhan, yang melibatkan guru dan murid. Bagaimana semua itu terjadi kalau bukan karena dari kebiasaan melihat dan memandang yang tidak dikontrol baik-baik.
Apa yang dilakukan oleh guru saya itu, mungkin saja adalah cara yang bisa ia lakukan untuk menjaga pandangan, menciptakan kontrol diri dalam memandang meskipun itu adalah muridnya. Setan bersemayam di dalam kelopak mata mereka yang senang memandang. Kalau tanpa kontrol yang mapan, pandangan itu akan memunculkan kesimpulan yang berujung pada keinginan-keinginan buruk.
Sering-seringlah kamu memandangi murid-muridmu. Kamu akan bisa membedakan mana yang cantik-tampan dan mana yang tidak. Setelah itu, karena ketiadaan kontrol, kamu akan mengaguminya, mencari-cari alasan untuk bisa berlama-lama berbincang dengannya, mencandainya, merayunya hinggaa....ah, sudahlah. Ini hari sudah malam. Mataku sudah sangat ngantuk. Mari kita bubar saja," tutup Cak Sarudin.
Semua teman nongkrong Cak Sarudin membubarkan diri tanpa ada sepatahkatapun yang keluar dari mulut mereka.









