Selasa, 10 Maret 2026

MINI CONFERENCE RSIS NTU

 Waktu menunjukkan jam 5 pagi di hari Minggu 10 September 2017 itu, ketika saya tiba di Bandara Internasional Adisucipto Yogyakarta. Cuaca dingin dan rasa kantuk masih  menggelayut di pelupuk mata. Maklum, hampir semalaman saya tidak tidur karena harus menyiapkan berbagai keperluan presentasi.

Saya sadar, bahwa presentasi yang akan saya sampaikan pada hari Senin 11 September 2017 keesokan harinya adalah presentasi yang bagi saya sangat luar biasa. Ya, luar biasa. Sebab saya harus melakukan presentasi di hadapan orang-orang baru, di ruangan baru, tepatnya di sebuah negara yang juga merupakan negara baru yang saya datangi. Singapura. 
 
  
Sebelumnya bagi saya, datang ke negara tetangga itu seperti sebuah mimpi saja. Singapura yang selama berpuluh-puluh tahun lalu saya hanya mendengarnya sebagai negara maju, di hari Minggu itu akan saya kunjungi. Negara yang warna benderanya (kecuali motif bintang dan bulannya) sama persis dengan bendera Indonesia itu akan menjadi negara pertama yang saya kunjungi dalam sejarah hidup saya bepergian ke luar negeri. Semoga akan ada kesempatan lain untuk bisa berkunjung ke negara-negara lain di waktu yang lain.
 
Dan tujuan utama dari kepergian saya ke negara yang bisa ditempuh hanya dalam waktu satu jam lebih dari Jakarta itu bukan untuk traveling atau shooping, melainkan untuk presentasi paper dalam acara mini conference yang diselenggarakan S.Rajaratnam School of International Studies (RSIS), yang berada di lingkungan salah satu kampus terkemuka di dunia; Nanyang Technological University.
 
 
Barangkali bukan hanya saya, keempat rekan saya seperti Imas Luul Jannah, Moh. Anwar Salafuddin, Lutfan Muntaqo dan Dahlia Hidayati Umar Hasan mungkin juga merasakan perasaan yang sama -senang dan gugup- ketika mereka tahu bahwa abstrak paper hasil penelitian yang mereka kirimkan ternyata diterima dan disetujui untuk dipresentasikan di Singapura. Kami senang karena bisa bepergian ke luar negeri dengan gratis, tapi juga gugup karena kepergian itu sebenarnya tidak benar-benar gratis. Ada ‘harga’ yang harus dibayar, yaitu kesungguhan untuk bisa mempresentasikan paper kami dengan sebaik-baiknya dan kami telah berupaya untuk itu. 

Sepanjang penerbangan dari Yogyakarta-Tangerang hingga Singapura, saya pribadi tak henti-hentinya bersyukur dengan mengikuti program call paper yang banyak ditawarkan oleh berbagai lembaga dan perguruan tinggi luar negeri lewat kerjasama mereka dengan pascasarjana UIN Sunan Kalijaga. Salah satunya sebagaimana program call paper yang diselenggarakan RSIS di mana tahun ini mengangkat tema Islam, Globalisation and Activism in Southeast Asia.
 
 
Juga, sepanjang penerbangan itu, saya menyiapkan mental untuk bisa menjalankan kewajiban saya agar bisa mempresentasikan paper dengan sebaik-baiknya, sebagus-bagusnya, meskipun segala persiapan itu harus runtuh secara perlahan saat saya ‘ditahan’ (random chek) untuk suatu alasan yang bagi saya hingga saat ini masih menjadi misteri. Duh! Peristiwa random yang saya alami untuk pertamakalinya itu tentu saja membuat saya shock. Apalagi, itu saya alami di suatu tempat yang amat jauh dari negara saya, di mana tak satu pun orang-orang yang saya lihat bisa diajak untuk sekadar curhat mengurai rasa shock yang tak bisa hilang begitu saja meski Pak Najib Kailani, Pak Ahmad Rafiq dan Pak Sunarwoto berkali-kali berkata, “Tenang, Rus. Itu biasa, santai saja”. Ya, tenang saja. Mungkin memang seperti itulah perjalanan hidup manusia. Selalu ada masalah, rintangan, hambatan dan juga random.    
 

Dengan mengikuti program call paper semacam itu, yang utama bagi kami para mahasiswa tentu bukan sekadar bisa pergi gratis ke luar negeri. Tapi, dengan adanya program itu, kita juga bisa menyadari apa yang seharusnya kita benahi dari setiap kekurangan kita sebagai mahasiswa lewat pertukaran ide dengan berbagai pihak dalam ruang lingkup yang lebih luas. Hal ini tampak selaras dengan sambutan Bapak Noorhaidi Hasan selaku direktur pascasarjana UIN Sunan Kalijaga yang menyatakan bahwa, lewat program call paper ini beliau ingin memberikan peluang, pengalaman dan kesempatan kepada mahasiswa untuk membuka wawasan mereka seluas-luasnya lewat interaksi secara internasional melalui riset dan karya-karya intelektual. 


Bagi saya dan empat rekan saya lainnya sesama mahasiswa, kesempatan mengikuti mini conference ke Singapura tahun ini adalah pengalaman yang cukup berharga. Terlebih ketika Bapak Noorhaidi Hasan, Bapak Najib Kailani, Bapak Sunarwoto, Bapak Ahmad Rafiq, Ibu Nina Mariani Noor, Ibu Eti Rohaeti dan Ibu Kenya Budiani yang notabene banyak mengenyam pengalaman mengikuti kegiatan seperti itu, turut pula menemani dan membimbing kami.


Di samping itu, bagi saya, mengikuti program mini conference seperti itu tidak sekadar meniscayakan diperolehnya pengalaman berdiskusi dalam kancah internasional lewat paper yang dipresentasikan. Namun yang tidak kalah penting adalah, kita juga dapat saling memahami bagaimana tradisi dan budaya masyarakat di setiap negara yang kita kunjungi serta turut merasakan atmosfer kehidupan mereka. Kenyataan ini tentu saja memberikan nilai pengalaman lebih bagi kita dan membuat kita bisa mempelajari banyak hal tentang apa yang baik di negara lain yang bisa kita ikuti, di mana yang demikian tidak kita temui di negara sendiri.
 
Seperti halnya negara Singapura. Harus saya akui bahwa negara ini dihuni oleh orang-orang yang menjadikan kedisiplinan sebagai sikap hidup yang penting. Sebagai contoh, bila kita menyusuri jalanan Singapura yang ramai itu, kita seperti sedang menyusuri jalanan perkampungan yang sunyi. Deru mobil yang berseleweran tak ubahnya desir angin yang menelusup di antara ranting-ranting dan dedaunan. Itu terjadi karena para pengendara tak perlu membunyikan klakson untuk sekadar mendahului atau pindah jalur dan mereka tak perlu merasa khawatir disenggol atau ditabrak mobil lain. Di Singapura, kedisiplinan tidak hanya ada di kampus dan tempat-tempat kerja, tapi juga di jalan-jalan raya.
 
“Coba kamu perhatikan, di Singapura ini, betapa jarangnya kita mendengar suara klakson mobil meskipun jalanan ramai seperti ini, kan?” bisik Pak Sunarwoto di samping saya. Dan saya pun terpengaruh ucapan beliau sehingga sepanjang perjalanan menyusuri bagian-bagian Singapura, saya lebih banyak terdiam di dalam mobil, memperhatikan kalau-kalau ada suara klakson mobil. Ini memang terdengar cukup aneh.
 
Malam hari, usai siangnya mengikuti mini conference, kami rombongan dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini kami diberi kesempatan untuk menikmati makan malam di kawasan Chinatown Food Street. Kawasan ini hampir dapat dikatakan sebagai kawasan yang tidak pernah sepi. Tumpukan kursi selalu dipenuhi oleh para turis yang ingin menikmati makan malam mereka di daerah yang banyak dipenuhi dengan ornamen-ornamen China.

Selesai menikmati acara makan malam di Chinatown Food Street, kami bergegas menuju pusat keramaian lain di Singapura. Kali ini kami menuju Merlion Park, sebuah tempat di mana ikon Singapura berada. Di tempat ini, peserta mini conference dapat menikmati beberapa pemandangan seperti Esplanade, bangunan yang merupakan pusat seni paling aktif di dunia, Singapura River dan Marina Bay Sands yang sedang mempertontonkan atraksi cahayanya. Menjelang tengah malam, kami mengakhiri perjalanan di Mustafa Center Singapure untuk keperluan membeli oleh-oleh yang akan dibawa pulang pada Selasa keesokan harinya. 
 
Sampai acara selesai dan kami harus kembali bertolak ke tanah air, peristiwa random chek itu kembali saya alami. Saya tertahan kembali untuk diperiksa beberapa saat di pintu masuk Bandara Changi. Cek sidik jari berkali-kali. Cek paspor berkali-kali, dan wajah saya ditatap petugas berkali-kali. Dalam hati saya hanya bisa membatin, “Ya, Tuhan! Ini akibat salah saya atau ada yang salah dengan wajah saya.” Tapi ya...biarlah, saya tak ingin memikirkannya lagi. Saya sudah capek, ngantuk. Wayyyyy....uzzzz! 
 

 
 
 
 

Rabu, 31 Desember 2025

Agora Sebagai Simbol Keterbukaan Intelektual

 


Kampus adalah sebuah lingkungan yang harus memberikan peluang sebesar-besarnya kepada setiap orang dalam rangka ‘mempertengkarkan’ ide demi ide. Tempatnya boleh saja di dalam kelas, di ruang-ruang perpustakaan, di taman tempat orang-orang duduk bersantai, di koridor-koridor, bahkan termasuk di dalam kantin. Dari asal katanya saja, campus (bahasa Latin) bermakna ‘lapangan luas’. Artinya, baik dosen maupun mahasiswa dapat melangsungkan dialektika intelektualnya di semua sisi ruang mana saja yang dikehendaki.

Membayangkan bahwa kerja-kerja akademis hanya dan wajib dilaksanakan di ruang-ruang kelas yang tertutup secara tidak langsung telah membatasi terjadinya dialektika itu sendiri. Ruang kelas diperlukan hanya untuk memastikan bahwa baik dosen dan mahasiswa tidak terganggu dalam beberapa menit waktu ketika membahas sebuah teori dan penjelasan-penjelasan lain dari teori itu sendiri. Diskusi lanjutannya bisa dilakukan kapan saja, dimana saja.

Penulis sendiri, sejak masih mengajar di sekolah, lebih banyak menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar di luar kelas. Situasi dan suasana belajar yang berbeda memberikan atensi yang juga berbeda bagi siswa. Ketika berada di dalam kelas, penempatan meja kursi siswa dan guru, termasuk papan tulis membentuk suasana belajar yang formal, yang tidak hanya menciptakan keberjarakan fisik tapi juga psikologis antara mereka. Tetapi ketika di luar kelas, suasana formal itu seketika menjadi cair, memungkinkan terjalinnya diskusi berbagai hal karena masing-masing merasa memiliki kedekatan.

Beberapa orang mahasiswa, saat kami sedang duduk dan ngobrol santai seusai perkuliahan menyampaikan bahwa, suatu ketika ada seseorang yang membicarakan, lebih tepatnya mengkritik saya karena kerap duduk berbaur dengan mahasiswa di luar ruang kelas perkuliahan. Saya sendiri memang senang duduk santai di kantin, menikmati makanan ringan, minum kopi dan di waktu yang lain kami duduk-duduk di mushalla. Di sana kami membicarakan berbagai hal dan persoalan yang ditanyakan mahasiswa, baik terkait soal materi perkuliahan maupun urusan-urusan pribadi mereka.

 Mendapat laporan seperti itu, saya memikirkan sebuah pertanyaan; apakah yang saya lakukan itu merupakan sebuah kesalahan dan pelanggaran terhadap kode etik akademik? Sebelum terlalu jauh memikirkan jawaban atas pertanyaan tersebut, saya bertanya kepada mahasiswa apakah mereka merasa kurang nyaman seandainya saya ikut kumpul bersama mereka. Mereka menjawab bahwa mereka justru merasa nyaman, terutama karena bisa mendiskusikan banyak hal tanpa terganggu oleh durasi jam pergantian saat di dalam kelas.

Dari jawaban itu, saya justru merasa aneh ketika seseorang mengkritik apa yang saya lakukan hanya karena saya membiarkan dialektika dan pertukaran argumen terus berlangsung di luar ruangan kelas. Meyakini bahwa diskusi dalam perkuliahan hanya boleh di lakukan di dalam ruangan kelas secara tidak langsung telah mereduksi makna kampus itu sendiri. Sebab pengetahuan tidak hanya ditemukan di dalam ruang-ruang laboratorium, tapi bisa juga didapatkan di tengah keramaian pasar, di area parkiran, di lokalisasi perjudian dan pelacuran, bahkan di area yang kumuh sekalipun.

Sedari dulu para filsuf sudah meyakini bahwa akal pikiran dan daya hayal manusia tidak bisa tertampung oleh tempurung otak fisiknya yang terbatas. Daya pikir dan daya hayal itu bisa mengembara kemana-mana. Karena itu mereka berdiskusi di berbagai tempat. Konon, di Yunani ada sebuah tempat bernama Agora yang merupakan alun-alun pasar utama di kota Yunani. Tempat ini memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai tempat para filsuf berdiskusi dan juga tempat orang-orang menaruh dagangannya untuk dijual. Jadi sejak awal berbagai tempat mencerminkan sifat kehidupan sosial dan intelektual yang terbuka.

Tetapi naluri feodalisme sepertinya mengubah itu semua bahwa diskusi hanya boleh di satu titik tempat tertentu, tidak boleh di luar. Pembicaraan tentang pengetahuan hanya boleh dilakukan dan didengarkan oleh kalangan tertentu dan masyarakat umum tidak boleh ikut mendengarkan. Seorang guru, seorang dosen, kiai, ustadz atau apa saja tidak seharusnya khawatir bahwa dengan melakukan diskusi di luar ruang-ruang belajar akan menyebabkan reputasi, wibawa dan kehormatan mereka akan tercoreng. Mereka semua adalah pelayan umat, pelayan masyarakat dan ketika memutuskan untuk menjadi pelayan masyarakat tidak ada salahnya memahami apa yang dikatakan Ibnu Hazm al-Andalusi ini:    

من تصدر لخدمه العامة،فلا بد أن يتصدق ببعض من عرضه على الناس لأنه لا محاله مشتوم حتى وإن واصل الليل بالنهار

 Intinya; siapa saja yang sudah memutuskan berkhidmat pada kepentingan dan pelayanan publik atau masyarakat, maka ia harus bersedia mengorbankan sebagian kehormatannya untuk orang lain, karena pasti akan ada yang mencacinya. Bahkan, jika ia bekerja keras siang dan malam.

Jumat, 26 November 2021

MOMEN-MOMEN INDAH SAAT SERTIJAB

MAN 4 Kebumen

"Segalanya memang akan segera berlalu. Tetapi harus ada yang merawat setiap kenangan yang baik ini. Aku tidak tahu, apakah kelak akan ada yang datang mengungjungi kenangan-kenangannya kembali di sini, memberikan seulas senyum manisnya ketika mata mereka melihat kembali apa saja yang sudah pernah mereka lewatkan dalam hidupnya. Dan seandainya mereka membiarkan apa yang sudah lewat sebagai ampas kehidupan, namun setidaknya mereka masih berkenan untuk sewaktu-waktu mengingat bahwa di sinilah mereka pernah singgah untuk melangkah ke masa depan masing-masing."


 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 


 

Yaaaa......akhirnya fotoku masuk sini jugak.
Hepi ending dah....jadinya.
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
 
 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

 


 

 

 



Senin, 15 November 2021

CERITA-CERITI VAKSINASI DI MAN 4 KEBUMEN

Ikhtiar untuk tetap selalu sehat di tengah situasi pandemi virus Covid-19 terus dilakukan oleh pemerintah. Salah satunya dengan program vaksinasi nasional. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, hingga 30 Oktober 2021, tercatat masyarakat Indonesia yang sudah divaksin telah mencapai 119.151.818 jiwa dan ditargetkan pada bulan November 2021 lebih dari 50 persen masyarakat sudah divaksin.

Salah satu sasaran vaksinasi yang digalakkan saat ini adalah kalangan pelajar. Hal ini sebagai salah satu upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di lingkungan pendidikan terutama ketika melaksanakan proses pembelajaran terbatas yang sebagian sudah berjalan. Berkaitan dengan hal tersebut, Senin 15 November 2021, sekitar 542 pelajar MAN 4 Kebumen ikut melakukan vaksinasi yang terlaksana atas kerjasama MAN 4 Kebumen dengan Puskesmas Gombong 2.

Menurut Waka Kesiswaan MAN 4 Kebumen, Ibu Asmara Wijaya, S.Pd, pelajar yang hadir di madrasah berdasarkan data yang masuk semuanya berjumlah 551 orang, namun yang bisa divaksin baru 542 orang. “Ada sembilan orang yang tidak bisa divaksin hari ini dan disarankan untuk vaksin susulan. Dari sembilan orang itu problemnya bermacam-macam mulai dari aspek kesehatan yang tidak memungkinkan untuk divaksin saat ini dan sebagian yang lain terkait dengan masalah di NIK. Kami akan terus melakukan koordinasi dengan petugas kesehatan dan wali murid agar siswa-siswi kami bisa semuanya nantinya mendapatkan vaksin,” demikian ungkap Ibu Asmara kepada redaksi E-Mantap.

Berdasarkan pantauan Tim E-Mantap, dalam pelaksanaan vaksinasi tersebut, terdapat beberapa orang pelajar yang mendapatkan perawatan intensif pasca vaksin. Mereka ditempatkan di ruang UKS MAN 4 Kebumen. Namun hingga berita ini diturunkan kondisi beberapa pelajar tersebut akhirnya pulih kembali dan bisa pulang ke rumah masing-masing. Salah seorang pelajar yang tidak berkenan disebutkan namanya (ED) mengemukakan bahwa setelah divaksin dirinya merasakan pusing. “Saya bahkan sempat pingsan katanya tadi. Tapi sekarang sudah nggak apa-apa. Nggak pusing lagi.”

Selain itu, pelaksanaan vaksinasi untuk para pelajar MAN 4 Kebumen siang tadi juga tampak meriah. Hampir semua guru tampak terlibat untuk memperlancar jalannya vaksinasi mulai dari mengatur parkiran kendaraan, mendata siswa yang hendak divaksin, mengontrol prokes bagi setiap siswa yang masuk di lingkungan MAN 4 Kebumen, dan ada juga yang menghibur para pelajar yang mau divaksin dengan karaoke agar mereka tidak terlalu tegang pada saat menunggu untuk divaksin.

Keceriaan juga tampak terlihat jelas di wajah-wajah para pelajar MAN 4 Kebumen meskipun ada juga sebagian pelajar yang merasa ketakutan sampai menangis ketika sudah berada di bilik vaksinasi. Berbagai potret kejadian para pelajar MAN 4 Kebumen pada saat pelaksanaan vaksinasi tersebut tak ayal mengundang tawa bagi beberapa guru, petugas kesehatan dan juga para pelajar yang hadir. Seperti apa keseruan mereka, yuk intip sebagian foto-fotonya berikut ini...(@PapiRose)

"Mejeng dulu sebelum dicuil jarum suntik kuy.."
 
 
"Saya habis divaksin rasanya pusing. Pintu gerbang pulang ke sana yaa.."
 
 
 
"Disuntik vaksin nggak sakit kok. Macam digigit semut selusin aja...wkwkw"
 
 

"Selamat, kuota 200 GB sudah masuk ke nomor Anda..."

 
 
"Yang sudah vaksin pasti jempolan.."
 
 

"Duh Gusti...kulo laparr!" wkwkwk 
 
 

"Satu laki empat wanita. Ini bukan poligami ya. Tapi poliklinik."
 
 
 
"Aduhh...rasanya kayak ujian skripsi nih....mamas PPL....wkwkwkw"
 
 
 
"Apa loo..mau reset CBT? Tak ada reset-reset. Kita sibuk vaksin nih."
 
 
 
"Tak ada guna lagi air mataku. Biar pun tumpah...kau ceplus juga, tega ya dirimu."
 
 
 
"Ya Allah....kupasrahkan jiwa ragaku kepadamu. Cakittt ini."
 
 
 
Wehhh....ada fasilitas antar jemput gratis nih...hahaha
 
 
 
"Menunggu bukan hanya membosankan, tapi juga mendebarkan. Nunggu dicepluss..."
 
 
 
"Hebat alat pengukur suhunya, tinggal gini aja dia ngomong sendiri. Dompet Anda normal.....wkwkwk"
 
 
 
"Bang, ini mau vaksin apa mau salat Idul Pitri, Bang? Au' ahhh..."
 
 
 
"Sabang neng. Tak usah ngembek gitu. Mending sakit gegara disuntik daripada sakit gara2 didiemin orang se RT." 
 
 

Ini dia artisnya... "Jatuh bangun aku mengejarmuu...." 
"Nengajar layangan putus, Bang?"
Brisikkk
 
 
 
"Siap-siap semuanya....hari ini kita senam dulu pake goyang Ipin Upin...oke"
 
 

Eh, ada Papi ikut mejeng di belakang tuh. Papirika.....hahaha...bisa ditongseng dong



 




 

 
 

 

 

 

 

 

 
 

 



 



 


 



s

TERBARU DARI GURU