Seorang lelaki di Kalitengah Kebumen, di bawah terik matahari siang yang membakar, mengais-ngais sampah plastik yang berserakan di sawahnya. Sampah-sampah itu terbawa arus aliran sungai kecil yang airnya membludak membawa sampah-sampah itu masuk ke dalam sepetak sawah miliknya. Ia jelas lelah dengan tugas dadakan yang sudah sering terjadi sejak bertahun-tahun yang lalu.
Sialnya, sampah-sampah plastik itu bukanlah sampah rumah tangganya sendiri melainkan sampah orang lain yang secara sembrono mereka membuang sampah-sampah rumah tangganya di bantaran sungai. Sungguh tidak jelas asal-usulnya, sejak kapan mereka berpikir bahwa sungai dianggap sebagai tempat paling mudah untuk membuang sampah tanpa pernah peduli bahwa akibat ulahnya itu justru orang lain yang harus menanggung trukah.
Rasanya belum pernah ada fatwa yang dikeluarkan secara khusus yang berisi jawaban atas pertanyaan; apa hukumnya membuang sampah di sungai yang mengakibatkan orang lain sengsara sebagaimana contoh di atas? Dosakah? Haramkah?
Tidak sedikit diskusi hukum dilakukan namun hanya membicarakan persoalan-persoalan yang sesungguhnya tidak lebih urgen dari masalah sampah. Padahal, masalah paling dekat dengan urusan kehidupan seluruh umat manusia antara lain adalah sampah. Setiap hari tidak pernah ada manusia yang tidak menimbulkan sampah, baik dalam skala volumenya yang besar maupun kecil.
Sampah itu, bagi sebagian orang memang terlihat menjijikkan. Anda dijamin akan nesu-nesu, uring-uringan dan sumpah serapah akan keluar dari mulut Anda bila tetangga sebelah rumah Anda membiarkan sampah rumah tangganya menumpuk mengeluarkan bau busuk atau berserakan diterbangkan angin hingga ke halaman rumah Anda.
Tapi di saat yang bersamaan Anda sendiri membuang sampah di sembarang tempat, membuang sampah di sungai, yang lalu hanyut dan membusuk di tempat-tempat jauh di samping rumah orang lain. Parahnya, sampah-sampah rumah tangga Anda, yang Anda sendiri saja jijik melihat dan menanganinya justru malah orang lain yang harus dikorbankan sehingga mereka bersusah payah mengurusnya seperti kasus di atas.
Jika orang lain harus menanggung susah akibat sampah-sampah rumah tangga kita yang kita buang sembarangan, lalu kita akan disebut apa kalau bukan dzalim. Bisakah kita dikatakan cinta lingkungan sehat dan bersih dari sampah jika ternyata sampah-sampah itu dibuang di sungai dan sembarang tempat sehingga orang lain yang harus jadi korbannya?
Jangan egois. Manusia itu hidupnya sementara, yang ‘abadi’ adalah sampahnya. Mari jaga kebersihan lingkungan kita dari sampah, pikirkan bagaimana menangani sampah. Kalau malas memikirkan sendiri tentang bagaimana mengurus sampah-sampah Anda, carilah mitra yang bisa membantu mengurusnya.









