Senin, 25 Mei 2026

MENCARI NISAN TERAKHIR: Bagian Pertama

 

Makam Fatimah binti Maimun

Suasana hening, nyaris tidak terdengar suara apa pun. Beberapa lampu penerang masih menyala walau cahayanya sudah mulai suram. Cuaca terasa begitu dingin. Meski sudah memakai jaket, namun tubuhku masih merasakan dinginnya suasana pagi ini, apalagi semalam turun gerimis. Daun-daun kamboja kulihat masih tampak basah dan merunduk, seperti meresapi keadaan di sekitarnya.

Walau sebenarnya ragu, aku memaksakan diri untuk terus berjalan di atas jalan setapak yang akan mengantarkanku pada sebuah tempat peristirahatan terakhir seorang perempuan, yang entah kenapa selama beberapa bulan terakhir ini menarik keinginanku untuk mengunjunginya.

Aku sendiri mengetahui nama perempuan itu dari sebuah buku yang pernah aku baca, yang sekilas menjelaskan tentang nama dan asal-usulnya. Namun keanehan terjadi sewaktu aku membaca kisah tentangnya. Aku merasa sudah mengenalnya begitu lama. Namanya seakan tidak asing di telingaku seperti halnya seorang teman yang sudah lama tidak pernah berjumpa.

"Kamu sedang menerima panggilan spiritual darinya. Kamu harus segera mengunjunginya," kata Yai Wardhana saat aku bercerita tentang keanehan yang menyelimuti perasaan dan pikiranku.

Aku hanya diam saja mendengar saran Yai Wardhana. 

"Selama ini, sudah banyak yang mempelajari sosok Fatimah binti Maimun itu, tapi sangat jarang yang mengalami hal-hal seperti yang kamu alami sekarang. Saranku, jangan tunda lagi. Kamu harus segera ke sana."

Aku memikirkan saran Yai Wardhana itu beberapa hari lamanya sebelum akhirnya aku yakin bahwa aku memang harus mengunjunginya. Apalagi, keanehan-keanehan semakin nyata aku alami seperti timbulnya keinginan yang menggebu-gebu justru pada saat aku berniat untuk tidak pergi ke sana.     

Dan pagi ini aku sudah berada begitu dekat dengan tempat peristirahatan perempuan itu. Dengan hati yang kian berdebar dari sebelumnya, aku terus berjalan. Beberapa meter di depan sana, aku melihat dengan jelas sebuah pintu gerbang setinggi kurang lebih tiga meter yang terbuat dari batu bata. Sementara di belakangnya tampak sebuah bangunan cungkup segi empat yang menurutku tingginya sekitar 15 meter.

Sampai akhirnya langkahku terhenti saat berada tepat di depan pintu gerbang yang sebagian batunya dipenuhi lumut. Dengan agak ragu dan sedikit gemetar, aku sentuh tumpukan batu pintu gerbang itu sambil menarik nafas dan memejamkan mata. Aneh! Kehangatan seakan-akan mengalir ke sekujur tubuhku. Aku seperti merasakan sebuah kedamaian, menangkap sesuatu yang mengagumkan, semacam pancaran energi yang begitu kuat dan lembut yang berasal dari cungkup yang ada di belakang sana. 

Aku menarik tanganku, lalu berjalan memasuki lorong dengan sedikit membungkuk. Saat berada di tengah-tengah lorong gerbang itu, dalam suasana pagi sebelum matahari terbit, perasaanku kembali menangkap energi yang lebih hangat dan damai. Aku seperti berada di tengah-tengah suasana yang dipenuhi dengan kesucian dan kemuliaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.

"Apakah ini artinya dia menerima kedatanganku." 

Aku membatin sebentar, dan lalu buru-buru melangkahkan kaki perlahan-lahan menuju sebuah bangunan berbentuk cungkup, besar dan tinggi. Saat aku berada tepat di depan bangunan itu, kedua mataku tak bisa berkedip. Yang aku lihat kini bukan sekadar gedung cungkup dari masa silam yang jauh, melainkan sesuatu yang lebih besar dari itu dan aku tidak tahu bagaimana membahasakannya.

Warna kusam dinding bangunan yang berdiri kokoh di depanku kini memancarkan kemegahan aura spiritual tersendiri. Ada kemegahan dari kejayaan Majapahit berikut kekhusyukan para rohaniawan masa silam. Aura dari kekuatan mereka seakan menyatu kuat menyelimuti dinding bangunan yang berdiri sejak beberapa abad yang lalu. Merenungkan itu semua, aku seperti terseret pada pusaran waktu yang tak mampu kupahami dengan sempurna.

"Siapakah engkau sebenarnya wahai Fatimah?"

Pertanyaan itu bergema di dalam pikiranku. Dan perasaanku sendiri  meluncur deras melewati lapisan demi lapisan sejarah, lalu berhenti pada satu keadaan di mana segalanya terasa begitu sunyi dan kudus. Aku melihat kabut tipis menggantung di ujung rimbunnya pohon bambu yang sebentar kemudian pudar oleh hembusan angin. Jalan-jalan kecil setapak dengan pohon-pohon besar di kiri-kanannya tegak dan kukuh. Sejauh mata memandang hanya rerimbun hijau dedaunan dan sesekali tercium aroma dupa, entah berasal dari mana. Semua keadaan itu membuatku merasa benar-benar damai.  

"Ini adalah awal. Kamu akan melanjutkan perjalanan berikutnya. Bangunlah. Aku telah menerima kedatanganmu. Pergilah kepada yang terdekat."

Hangat sinar matahari yang menimpa tubuhku tiba seiring menghilangnya suara itu. Apakah aku bermimpi? Pergilah kepada yang terdekat; apa maksudnya. Hari sudah mulai terang. Sebelum beranjak pergi, kulihat sekali lagi bangunan cungkup yang megah itu. Masa silam yang direnungkan akan selalu menyuguhkan keindahan yang tak mampu diungkapkan.

 

 

  

Jumat, 08 Mei 2026

Di Bawah Bayang-Bayang Tatapan Mata Guru

 
 Di depan teman-temannya, Cak Sarudin bercerita dengan penuh semangat kalau sewaktu sekolah Aliyah dulu ia mempunyai seorang guru yang sangat ia hormati. 

"Namanya KH. Kamalil Irsyad. Beliau guru PPKN. Orangnya sangat sederhana. Dan cara ngajarnya sangat aneh," katanya.

"Aneh gimana?" tanya seorang temannya.

"Kalau dia ngajar, aku belum pernah melihat dia menatap murid-muridnya. Pandangannya ke bawah, ke lantai. Saat dia menjelaskan, ya tetap saja pandangannya ke lantai. Macam orang salat saja," papar Cak Sarudin.

Suasana seketika gaduh. Sekian teman-teman Cak Sarudin memberikan berbagai macam tanggapan. Ada yang berkata kalau cara ngajar demikian sama sekali tidak komunikatif. 

"Komunikatif itu nggak harus lewat kata-kata. Tatapan seorang guru itu juga bagian dari komunikasi. Ada nuansa dan resonansi berbeda yang akan dirasakan oleh murid ketika gurunya sedang melihat dan memperhatikan dia. Kalau menunduk macam itu mana ada getaran yang sampai ke mereka," katanya.

Yang lain silih berganti memberikan tanggapan. Dari sekian tanggapan itu semuanya mengarah pada satu kesimpulan: guru perlu menatap, memandang dan memperhatikan muridnya. Artinya, cara guru Cak Sarudin mengajar yang selalu menunduk adalah salah. Begitu kata mereka.

Cak Sarudin mengangguk sambil menghirup kopi dan menghisap rokok kretek kesukaannya. Lalu ia menarik napas, seperti menghimpun satu kekuatan yang akan ia gunakan saat memberikan tanggapan balik pada mereka. Lalu,

"Dengarkan oleh kalian," katanya dengan suara yang dibuat terdengar berat. "Apa pun kesimpulan yang kalian buat, itu tidak otomatis menjadikan argumen kalian benar dan apa yang dilakukan guru saya itu salah. Tak peduli teori pendidikan apa yang kalian buat.

Tetapi saksikanlah oleh kalian apa yang terjadi hari-hari ini. Beberapa lembaga pendidikan dibuat heboh oleh tindakan amoral sebagian oknum guru-gurunya. Ada yang melakukan pencabulan, ada yang melakukan perselingkuhan, yang melibatkan guru dan murid. Bagaimana semua itu terjadi kalau bukan karena dari kebiasaan melihat dan memandang yang tidak dikontrol baik-baik. 

Apa yang dilakukan oleh guru saya itu, mungkin saja adalah cara yang bisa ia lakukan untuk menjaga pandangan, menciptakan kontrol diri dalam memandang meskipun itu adalah muridnya. Setan bersemayam di dalam kelopak mata mereka yang senang memandang. Kalau tanpa kontrol yang mapan, pandangan itu akan memunculkan kesimpulan yang berujung pada keinginan-keinginan buruk.

Sering-seringlah kamu memandangi murid-muridmu. Kamu akan bisa membedakan mana yang cantik-tampan dan mana yang tidak. Setelah itu, karena ketiadaan kontrol, kamu akan mengaguminya, mencari-cari alasan untuk bisa berlama-lama berbincang dengannya, mencandainya, merayunya hinggaa....ah, sudahlah. Ini hari sudah malam. Mataku sudah sangat ngantuk. Mari kita bubar saja," tutup Cak Sarudin.

Semua teman nongkrong Cak Sarudin membubarkan diri tanpa ada sepatahkatapun yang keluar dari mulut mereka.  

TERBARU DARI GURU

CATATAN GURU KEMARIN DULU