Selasa, 14 Juli 2026

Akhlak Mulia Sebagai Visi Kenabian Muhammad Saw, Mengapa?

Judul Buku      : Sebelum Mengerti Belajarlah Menghormati

Penulis            : Rusydi Anwar, M.Ag

Penerbit          : Araska Yogyakarta

Total                : ii-176 halaman

Terbit              : Juni, 2026

ISBN               : 978-634-253-030-6

Peresensi         : Kawulo Piyambak

 


Salah satu visi dari kerasulan Nabi Muhammad Saw adalah untuk menyempurnakan akhlak. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah sendiri di dalam sabdanya; "Sesungguhnya aku tidak diutus kecuali hanya untuk menyempurnakan akhlak." 

Hadis tersebut begitu populer, kerap disampaikan oleh para penceramah. Tetapi ada pertanyaan yang penting direnungkan; kenapa Rasulullah Saw menyampaikan bahwa diutusnya beliau tidak lain untuk menyempurnakan akhlak? Kenapa bukan untuk mengenalkan tauhid, mengenalkan agama Islam, mengajarkan salat dan sebagainya, kenapa harus akhlak?

Buku Sebelum Mengerti Belajarlah Menghormati karya Rusydi Anwar ini memberikan beberapa jawaban. Pertama, berangkat dari naluri alami manusia. Semua manusia memiliki naluri alami yang sama, yaitu cenderung pada kebaikan, keindahan, dan tidak suka pada keburukan, kejahatan dan sebagainya. 

Jika manusia berperilaku sesuai dengan naluri alamiahnya maka manusia akan berperilaku positif atau berakhlak baik. Tetapi naluri tersebut bisa dikendalikan oleh keinginan nafsu syahwat dan bila nafsu syahwat manusia tidak dikendalikan dengan baik maka yang terjadi adalah perilaku negatif atau akhlak yang buruk. Manusia yang tidak memiliki akhlak dikatakan telah menyimpang dari kecenderungan naluri alamiahnya sendiri.

Itulah sebabnya naluri alami tersebut perlu dikendalikan oleh agama, oleh iman dan keteladanan dari seseorang yang iman dan agamanya sudah kuat dan menyatu dalam dirinya sehingga naluri alami tersebut berjalan menuju ke arah yang benar. Maka disinilah Rasulullah Saw tampil bukan hanya sebagai penyeru akhlak tapi juga teladan dalam soal akhlak, membawa kerangka yang jelas agar manusia kembali sejalan dengan naluri alamiahnya yang condong pada kebaikan dan kemuliaan atau akhlak, (hlm. 64).

Kedua, akhlak atau budi pekerti yang baik dan luhur merupakan acuan utama untuk tetap memastikan jati diri manusia sebagai makhluk yang dimuliakan Allah Swt. Manusia -dengan sekian kelebihan dan kemuliaannya- akan tetap menempati derajat kemuliaan selama ia masih memegang etika, adab, akhlak. Sebaliknya, nilai derajat manusia tidak jauh berbeda dengan binatang ketika hidup tanpa menggunakan akhlak, adab dan etika.

Selain dua jawaban di atas, Rusydi Anwar di dalam bukunya juga menguraikan secara panjang lebar tentang bagaimana keterkaitan antara tiga kata yang sangat familiar dalam Islam, yaitu kata khaliq-makhluq-akhlaq. Tiga kata tersebut memiliki pengertian yang saling berkaitan dalam jati diri dan perilaku manusia. 

Dengan menghadirkan perbedaan pendapat di kalangan para ulama mengenai apa makna yang terkandung dan tersirat dalam hadis Rasulullah Saw, buku ini seperti menjadi ruang diskusi yang sangat kaya, baik dari segi argumentasi maupun literatur rujukan yang dijadikan dasar argumentasi oleh para ulama tersebut.

Selain itu, dengan bahasa yang sederhana, santai dan komunikatif, buku ini tidak sekadar mengajak kita untuk memahami idiom-idiom agama terkait akhlak secara lebih rasional. Tetapi buku ini juga membawa kita untuk menyelami hal-hal yang lebih sublim dari kehidupan manusia dengan seluruh perilakunya, mengajak kita merasakan dan menghayati pentingnya akhlak dan adab dalam kehidupan.  

 

NB: Tertarik dengan buku ini? Pesan sebelum kehabisan stok di sini atau dapatkan discon khusus dengan menghubungi penulisnya langsung di kolom komentar situs ini.

  

TERBARU DARI GURU

CATATAN GURU KEMARIN DULU